Lagi Heboh Soal Telur Infertil Dijual Bebas, Bikers Harus Tahu Bahayanya dan Bagaimana Ciri-cirinya

By Ahmad Ridho, Selasa, 16 Juni 2020 | 08:18 WIB

Contoh telur ayam infertil.

GridMotor.id - Lagi heboh soal telur infertil, bikers harus tahu apakah berbahaya dan bagaimana ciri-cirinya.

Telur ayam infertil masih saja banyak beredar di pasaran meski sudah lama dilarang pemerintah.

Di kalangan peternak ayam, telur infertil populer disebut sebagai telur HE atau hatched egg.

Ciri telur infertil biasanya berwarna lebih pucat atau warna cangkang cenderung keputihan Telur HE merupakan telur yang berasal dari ayam perusahaan pembibitan atau breeding.

Baca Juga: Bukan Cuma Syukuran Bayi, Beli Motor Baru, Warga Langsung Heboh Gelar Upacara Injak Telur, Ada Yang Masih Begini Gak Bro?

Baca Juga: Tertipu Pembeli Telur, Maling Honda Vario Enggak Berkutik Dikasih Gelang Kembar, Pelaku Sempat Buron

Telur HE merujuk pada telur yang tak digunakan atau produk yang tak terpakai dari perusahaan breeding untuk menghasilkan anakan ayam atau day old chick ( DOC) ayam broiler atau ayam pedaging.

Selain telur telur infertil, telur HE juga bisa berasal dari telur tertunas atau fertil.

Berbeda dengan telur fertil, telur infertil adalah produk buangan karena tak bisa ditetaskan, sementara telur tertunas merupakan telur ayam yang sudah dibuahi.

Baik telur infertil maupun fertil yang sama-sama merupakan telur HE, yang merupakan telur hasil produksi dari ayam GGPS, GPS, dan PS yang hasil telurnya diperuntukkan ditetaskan DOC di perusahaan pembibitan, bukan untuk dijual sebagai telur konsumsi.

Baca Juga: Kocak! Lagi Fokus Nonton Balapan Grassttack, Penonton Ini Malah Nyemil Makanan yang Bikin Kepala Geleng-geleng, Netizen: Mbekkkk

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan), I Ketut Diarmita menjelaskan, sebenarnya telur HE layak konsumsi.

Namun telur HE lebih cepat membusuk karena umumnya sudah cukup lama berada di perusahaan breeding.

"Terkait telur HE sebenarnya pada aturan yang ada adalah integrator (perusahaan breeding) tidak boleh memperjualbelikan telur itu.

Walaupun sebenarnya telur tersebut layak dikonsumsi," jelas Ketut kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Bikin Ngakak, Bukan Minta Beli Makanan Atau Antar Barang, Tapi Driver Ojol Malah Diminta Usir Binatang Kecil Ini

Pemerintah lewat Kementerian Pertanian melarang siapa pun menjual telur HE.

Larangan ini diatur dalam Permentan Nomor 32 Tahun 2017 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

Dalam Bab III pasal 13 disebutkan, pelaku usaha integrasi, pembibit GPS, pembibit PS, pelaku usaha mandiri dan koperasi dilarang memperjualbelikan telur tertunas dan telur ayam infertil sebagai telur konsumsi ( telur ayam infertil artinya)

Telur HE adalah bisa dibilang produk sisa dari industri farming perunggasan.

Baca Juga: Viral! Emosi Ditertibkan Satpol PP, Pedagang Nasi di Bojonegoro Buang Makanan ke Jalan, Pemotor Cuman Bisa Geleng-Geleng Kelapa

Perusahaan breeding akan melakukan seleksi ketat pada telur-telur ayam yang ditetaskan menjadi DOC atau bibit ayam.

Agar bisa menghasilkan DOC berkualitas, perusahaan breeding mengawinkan ayam betina dengan pejantan yang diseleksi secara ketat.

Terkadang, tak semua ayam betina dikawini oleh pejantan (terlewat).

Atau kasus lain, pejantan mengawini betina, namun proses pembuahannya tidak sempurna.

Baca Juga: Pemotor Bisa Melongo, Video Maling Burung Diringkus Warga Dapat Bonus Makan dan Minum, Sempat Ngobrol Sama Anggota TNI

Perusahaan breeding lalu menyeleksi telur yang dihasilkan ayam betina yang sudah dikawinkan ini.

Dalam proses sortir ini, seringkali ditemukan telur yang tidak dibuahi.

Telur inilah yang kemudian disebut sebagai telur infertil karena tak bisa ditetaskan.

Proses sortir telur biasanya dilakukan karyawan perusahaan breeding dengan melihat embrio di dalam telur lewat peneropongan.

Baca Juga: Yogyakarta Geger, Ramai Video Pernikahan Virtual Pakai Green Screen, Makanan dan Souvenir Bisa Diantar Pakai Ojol

Seleksi ini dilakukan terus menerus, bahkan hingga telur sudah masuk ke mesin pengeraman.

Tak jarang, telur infertil dan telur yang pembuahannya tak sempurna lolos seleksi dan dimasukkan ke mesin tetas.

Proses pengeraman (hatcher) dan penetasan telur itu memerlukan waktu sekitar 18-21 hari. Dalam satu mesin tetas, kapasitasnya bisa mencapai puluhan ribu telur.

Telur HE dari telur fertil

Telur HE tak hanya berasal dari telur sisa yang tak bisa ditetaskan atau infertil.

Baca Juga: Gak Punya Hati! Masih Saja Tega Nipu Saat Pandemi, Seorang Driver Ojol Kena Orderan Fiktif Makanan Hampir Rp 1 Juta

Telur HE juga bisa berasal dari telur fertil atau tertunas.

Perusahaan breeding seringkali mengambil kebijakan untuk tidak menetaskan telur fertil yang sudah dibuahi pejantan.

Alasannya antara lain suplai anakan ayam atau DOC yang sudah terlalu banyak, sehingga biaya menetaskan telur lebih mahal dari harga jual DOC.

Di Indonesia, harga DOC seringkali naik turun.

Baca Juga: Awalnya Girang Lama-Lama Kesel, Wanita Ini Hampir Jantungan Dapet 11 Order Fiktif Makanan Kerumahnya, Muka Diver Ojol Pucat Memelas

Saat suplai anakan ayam di pasar melimpah, harga DOC biasanya merosot. Membuat perusahaan breeding enggan menetaskan telur ayamnya.

Dalam kasus lainnya, perusahaan breeding juga seringkali mimilih tak menetaskan telurnya saat harga daging ayam broiler anjlok.

Kondisi ini peternak tak lagi mampu menyerap DOC yang diproduksi perusahaan breeding untuk dibudidayakan sebagai ayam pedaging.

Dengan kata lain, perusahaan breeding menghindari menjual anakan ayam yang sudah terlanjur ditetaskan saat pasar lesu.

Baca Juga: Serba Bisa, Enggak Cuma Antar Orderan atau Penumpang, Driver Ojol Juga Sigap Tangkap Ular Pyton Berukuran Besar

Telur-telur yang tak ditetaskan inilah yang juga bisa dikategorikan sebagai telur ayam HE.

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Dilarang Dijual di Warung, Apa Itu Telur Infertil?",