Jadi Makanan Wajib Lebaran, Bikers Tahu Enggak Nih Sejarah Ketupat? Ternyata Panjang Ceritanya...

By Erwan Hartawan, Selasa, 26 Mei 2020 | 07:01 WIB

Ketupat jadi makanan khas saat Lebaran.

Gridmotor.id - Saat lebaran hidangan wajib lebaran pasti ketupat.

Apalagi dihidangan sama opor ayam, sambal kentang, dan tak lupa krupuk udang.

Mantep banget pastikan kan?

Tapi brother tau enggak kisah ketupat bisa jadi hidangan wajib lebaran.

Baca Juga: Sedih Jelang Lebaran Driver Ojek Online Ini Kehilangan Motor dan Dompetnya Akibat Hipnotis, Semoga Diketahui Baim Wong dan Nikita Mirzani

Baca Juga: Kabar Gembira, Warga Bisa Melakukan Mudik Lokal di Jabodetabek Saat Lebaran, Ini Syarat-syaratnya

Angelina Rianti dan koleganya pernah mencatat asal usul ketupat dan filosofinya terkait tradisi Lebaran Indonesia dalam Journal of Ethnic Foods (Science Direct, Maret 2018).

Menurut jurnal tersebut, ketupat dikenalkan pertama kali oleh Sunan Kalijaga pada abad ke-15 hingga awal ke-16.

Siapa Sunan Kalijaga? Dia adalah teolog dan satu dari sembilan Walisongo yang berperan besar dalam penyebaran agama Islam di Jawa.

Selama berdakwah di Demak, Sunan Kalijaga mengembangkan dua acara sesudah puasa Ramadan, yaitu Bakda Lebaran serta Bakda Cilik atau Bakda Kupat.

Baca Juga: Gak Punya Uang Bertahan Hidup di Jakarta, 2 Pemudik Motor Akhirnya Lolos Saat Razia Oprasi Mudik, Polisi: Kasihan Lihatnya

Bakda Lebaran dirayakan pada hari pertama Idul Fitri dengan berdoa dan silaturahmi.

Bakda Kupat dirayakan sepekan berikutnya.

Acara "bakda" yang kedua ini sebenarnya berakar dari kebudayaan sebelumnya, tetapi diadaptasi oleh Sunan menjadi tradisi Islam di Jawa.

Dalam acara Bakda Kupat, hampir semua orang membuat makanan olahan beras yang kemudian diberi nama kupat atau ketupat.

Baca Juga: Maling Motor Gagal Lebaran, Baru Keluar Penjara Ikut Program Asimilasi Ketahuan Beraksi Langsung Tewas Ditembak Polisi

Mereka membuat anyaman segi empat wajik dari janur muda, mengisinya dengan beras, lalu mengukusnya dan mengeringkan.

Makanan ini dibagikan pada kerabat dekat sebagai simbol kebersamaan dan saling berbagi.

Seiring berjalannya waktu, ketupat tak hanya menjadi tradisi masyarakat Jawa tapi menyebar ke negeri tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei.

Hal ini beriringan dengan penyebaran agama Islam yang makin luas dan membawa salah satu tradisi budaya khas Indonesia, yakni menyajikan ketupat di hari raya Idul Fitri.

Filosofi ketupat

Secara filosofis, ketupat merupakan simbol permintaan maaf dan berkah,yang mana dekat dengan makna Lebaran itu sendiri.

Beras dalam ketupat melambangkan nafsu, salah satu versi sejarah meyakini bahwa janur merupakan singkatan dari jatining nur, ungkapan bahasa Jawa yang berarti hati nurani.

Baca Juga: Waduh, Mudik Lebaran ke Yogyakarta Masih Dibolehkan Padahal Sudah Dilarang Pemerintah, Kok Bisa Sih?

Dengan kata lain, ketupat merupakan perlambangan nafsu dan hati nurani.
Manusia diharapkan mampu menahan nafsu dunia dengan hati nurani mereka. Sementara itu, dalam bahasa Sunda, ketupat kerap disebut kupat.

Orang Sunda percaya, ketupat mengingatkan manusia untuk tidak mengumpat atau berbicara hal buruk pada orang lain.

Dalam bahasa Jawa, ketupat juga menjadi semacam frasa yang merujuk ke ungkapan ngaku lepat atau mengaku salah. Ada pesan tersirat yang menganjurkan manusia untuk meminta maaf saat melakukan kesalahan.

Perilaku ini telah menjadi kebiasaan atau tradisi pada Syawal atau Idul Fitri pertama, dan akhir bulan puasa ditandai dengan makan ketupat bersama dengan beberapa lauk. Ketupat digunakan sebagai simbol pengakuan bagi Tuhan dan manusia.

"Selain ngaku lepat, ketupat juga diartikan sebagai laku papat (empat keutamaan). Laku papat terdiri dari empat tindakan, yaitu lebaran, luberan, leburan, dan laburan," tulis jurnal tersebut.

Baca Juga: Pemotor Sedih... Virus Corona Semakin Mewabah Pemerintah Larang Pulang Kampung Saat Lebaran

Lebaran, yang berarti lebar, berarti pintu permintaan maaf telah terbuka lebar. Ketika manusia mengampuni orang lain, mereka menerima banyak berkah. Kata lebaran juga merujuk pada kata lebar dalam bahasa Jawa yang bermakna, "sesudah selesai".

Bulan puasa telah berakhir dan itu dirayakan dengan makan ketupat. Luberan berarti "berlimpah," yang memberikan pesan untuk membagikan aset mereka dengan orang yang malang melalui amal. Leburan berarti saling memaafkan.

Semua kesalahan dapat diampuni pada hari itu karena manusia dituntut untuk saling memaafkan. Laburan diambil dari kata dalam bahasa Jawa Labur yang berarti manusia murni dan bebas dari dosa manusia.

Dalam hal ini, ketupat memberikan pesan untuk menjaga kejujuran diri. Karena itu, setelah melakukan leburan (saling memaafkan), orang harus mencerminkan sikap dan tindakan yang baik.

"Berdasarkan wawancara dengan salah satu pakar budaya Jawa, nasi putih diartikan sebagai simbol kemakmuran dan kebahagiaan. Pembungkus hijau kekuningan dianggap sebagai salah satu tolak penguatan atau menolak nasib buruk.

Baca Juga: Video Pengendara Yamaha NMAX Banjir Pujian, Selamatkan Nyawa Pasien Sakit Jantung

Proses menggantung ketupat setelah dimasak di depan rumah dilambangkan sebagai salah satu bentuk atau tradisi mengusir roh jahat," imbuh penulis.

Karena itu, ketupat sering digantung di ambang pintu untuk mencegah roh jahat memasuki rumah.

Ketupat sering disiapkan dengan cara yang berbeda, dan salah satunya menggunakan santan sebagai media mendidih alih-alih air. Santan adalah simbol permintaan maaf.

Santan dalam bahasa Jawa disebut santen, yang berarti "pangapunten" atau permintaan maaf.

Baca Juga: Maling Yang Pede, Bawa Motor Curian Bersilaturahmi Lebaran Ke Tetangga Pemilik Motor, Langsung Dicokok Polisi

Seorang antropolog Indonesia menafsirkan ketupat sebagai salah satu simbol solidaritas sosial atau hubungan timbal balik seperti memberi dan menerima, yang dikenal sebagai hukum timbal balik.

Hubungan timbal balik terkait dengan kebiasaan saling memberi ketupat. Perilaku memberi menunjukkan hubungan timbal balik antara satu orang dan orang lain.

"Perilaku seperti itu menandakan hubungan sosial karena kontak dan komunikasi dengan orang lain yang akan mengarah pada sikap solidaritas," ujar tim penulis dalam jurnal mereka.